Wednesday, November 15, 2006

Berlalu

kenangan berlalu dalam mimpi semu..
gundah lampau liputi berupa ilusi..
tatapan depan pampang harapan..
terang cahaya benderang nyatakan kenyataan..

nyanyian dan tari gemulai ilalang arungi sepoi angin..
ilalang tetap menari..
dalam gemuruh hujan badai..
dalam terik mentari..
dalam gelap dingin malam..
dalam sendu indah rembulan..
selalu tulus dalam rona indah rupa senyuman..

Monday, August 14, 2006

Ilalang Bersedih

tiada rembulan temani..
ilalang kelabu dalam kelamnya malam..
ilalang layu tersapu angin dingin..

lambai gemulai tiada terjumpai..
gontai melambai dikekeringan..
hampa dari sejuknya bisikan embun..

ilalang malam ini kecewa..
begitu kecewa..
begitu sedih..
begitu duka..

lantunan syair jangkrikpun tak mampu hiburi..
ilalang bersedih..
ilalang dikecewakan..

hanya angin..
hanya embun..
hanya kelamnya malam..
hanya mereka yang mengerti..
luka sedih pilu dan kekecewaan ilalang...
hanya mereka yang mengerti..
karena merekalah sahabat ilalang...

Sunday, June 18, 2006

Tutur Kata Indra Tentang Makna Sebuah Titipan

Sering kali aku berkata,
ketika orang memuji milikku, bahwa:
sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipanNya,
bahwa hartaku hanya titipanNya,
bahwa putraku hanya titipanNya,

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali olehNya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa
itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku".
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku.

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk
beribadah...

"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"

Monday, August 15, 2005

15 Agustus 2005

hujèun iè mata ka pirang.
hujèun darah ka réuda.
tinggai harèukat anèuk nanggròé atéuh amanah indatu.
béu méushalehat nibak péutimang warésan.

awai ngòn akhé na nibak haté.
nyan kéuh nyawòng tiép janji.
barang kasòu pih nyang jéut kéu iméum
béujéut panòtan para ma'mum.

nanggròé teudòng lagéé tubòh ngon tiep-tiep anggòta.
sabòh sakét ban mandum méurasa.
ban mandum sehat, kulli jasad séujahtera.
téuma tubòh sehat tan méuhaté
nyan pih jéut kéu binasa.

nibak pò rabbi méuhadap dròé.
nibak nabi méumat talòu.
nibak syédara méumat jaròu.

Friday, May 05, 2000

Arif

Penilaian terlalu sering terpaku dengan mata
Sangat didukung oleh telinga
Hatipun jadi curiga
Rasa bimbang muncul
Iri dan dengki mengiringi
Cemburu menghantui
Kecewapun menyelimuti

Arif cuma sepatah kata yang sederhana
Namun cukup sulit dimiliki
Biarpun harus dibeli
Tak semua orang dapat memiliki

Ternyata arif bukanlah barang murah
Harus dibayar mahal dengan duka
Harus dikejar dengan peluh dan kecewa
Terkadang membutuhkan pilu dan tetesan bening air mata

Arif bukanlah bentuk
Arif adalah rasa
Rasa yang bukan rasa
Rasa dimana kedamaian dan keikhlasan menyatu sedemikian rupa tanpa beda

Pandangan mata terbatas oleh kelopak mata
Terhalang oleh bentuk dan rupa
Pendengaran telinga bergantung dengan gendang telinga
Terbuai oleh nada dan irama

Arif ada di hati
Hati tiada terjangkau oleh batasan-batasan bentuk dan rupa
Hanya selimut hawa dan keinginan yang buramkan pandangan akan kebenaran
Yang tersembunyi bagaikan mutiara dalam kerang
Yang berlapis oleh selaput-selaput kenyataan dalam kehidupan

Hati menyimpan permata..
Permata yang begitu indah...
Dimana pancarannya mencurah dengan sebutan arif...

Arif adalah rindu...
Arif adalah keikhlasan...
Arif adalah suka...
Arif adalah duka.....
Arif adalah kesabaran.......
Arif adalah Cinta.... yang tiada batas dan pemisalan dalam bentuk dan rupa...

Penampakan

Penampakan hanyalah kulit pembungkus rasa..
Biarkan bungkus itu apa adanya, karena rasa itu takkan kemana..
Apasaja yang terasa dalam segenap rasa, takkan mampu dihalangi oleh segenap ilustrasi dari aturan-aturan yang berbatas oleh anggapan-anggapan..

Sangat sedikit yang menimbang akan sesuatu dibalik yang terlihat dari suatu penampakan.
Betapapun penilaian itu hadir, takkan mampu menandingi sesuatu yang tersembunyi dibalik penampakan yang berbatas oleh bentuk dan rupa..

Mulut dapat berbicara apasaja..
Namun hati tetap berteriak mengungkapkan fakta..

Dia tetap sedia dan setia berlabuh dalam jiwa..
Dia takkan kemana-mana..
Dia adalah rasa..
Rasa yang ada dibalik rupa dan penampakan..

Biarpun dipungkiri, dia tetap ada...
Meski dilupakan..
Meski dibunuh..
Meski ditolak..

Dia tetap ada...
Ada....

Ada sebagaimana adanya...
Ada sebagaimana mestinya...

Kenapa mesti dipungkiri...
Kenapa mesti dinodai...
Kenapa mesti lari dan sembunyi dibalik topeng senyuman...


Friday, February 05, 1993

Sisi

Banyak liku terpaut akan diri yang lain
Akankah duka hantui rona rasa dalam raba
Biar detak waktu yang kelabui akan sisi dalam sisi
Mungkin takkan terlihat keindahan rautan ilusi

Pijakan mungkin takkan setegar karang
Bahkan mungkin takkan selunak agar-agar
Biar saja raut-raut hadir dalam makna-makna tragedi
Namun sisi-sisi takkan pernah terkelabui akan mimpi yang hadir

Karena sisi tetaplah sisi
Karena ilusi tetaplah ilusi
Karena mimpi tetap mimpi
Tak peduli....

Monday, January 01, 1990

Mimpi

Seiring perjalanan yang berlalu
Segalau rasa terjalani
Tak terhitung pilu tekuni
Antara nyata dan ilusi

Terlalu banyak kemilau jembatani
Serangkum hasrat terkulai
Serangkai bimbang menghadap
Setangkai hampa terpampang

Dilalui..
Ataukah diakhiri..
Inikah mimpi...???
Tiada kumengerti...

Pesan Ibunda

Ananda.....
Kini engkau jauh dari pangkuanku...
Tak lagi dapat kubelai engkau dalam pangkuanku
Tak lagi dapat kucurahkan perhatian dan kasih kelembutanku sebagaimana dulu..

Kini engkau jauh dari sisiku
Engkau kini diseberang
Lautan memisahkan kita...
Waktu dan tempat membuat jarak..

Meski engkau jauh...
lbunda selalu besertamu...
Engkau selalu kusertai dengan do’a dan tangis berkatku...

Wahai Ananda....
Wahai Permata Hatiku..
Ingatlah selalu.......
Ingatlah akan Rabbi-mu
Ingatlah Ia dimanapun kau berada
Ingatlah Ia dalam suka dan dukamu

Wahai Ananda....
Manakala engkau berduka
Pintalah kepada-Nya
Sesungguhnya hanya Dia-lah Pelipur laramu
Sesungguhnya hanya Dia-lah Pelindungmu
Sesungguhnya hanya Dia-lah yang selalu hadir dalam jiwamu
Sesungguhnya hanya Dia-lah yang selalu sedia besertamu

Wahai Purnamaku....
Belum tentu teman- temanmu ataupun saudaramu dapat membantumu...
Belum tentu teman-temanmu ataupun saudaramu mau membantumu...
Manakala engkau dalam kesempitan......
Manakala engkau dalam kesedihan....

Hanya satu yang dapat membantumu.....
Dialah.... Rabbi-mu
Dialah Allah....
Wahai anakku...

Hanya Dia-lah yang mengerti akan engkau seutuhnya....
Hanya Dia-iah yang mampu membimbingmu...

Pintalah pada-Nya...
Adukan segenap suka dan dukamu pada-Nya....
Niscaya kau temui apa yang kau cari....
Niscaya kau dapatkan kebahagian yang hakiki.... (Amin)